Minggu, 01 Mei 2011

biaya kualitas

Kualitas produk dan biaya kualitas merupakan faktor terpenting dalam menjamin keunggulan perusahaan untuk memenangkan persaingan di pasar. Hal ini disebabkan oleh sikap konsumen yang semakin kritis dan selektif untuk membuat keputusan membeli suatu produk. Sehingga secara tidak langsung perusahaan dituntut untuk menghasilkan produk yang benar-benar berkualitas tinggi dengan harga yang bersaing. Untuk mencapai kualitas yang tinggi perusahaan harus selalu melakukan perbaikan kualitas secara terus-menerus sejalan dengan pengembangan terhadap sumber daya manusia dan peralatan-peralatan yang digunakan dalam produksi.
Apabila suatu perusahaan mengabaikan kualitas dari produknya sama dengan perusahaan tersebut merusak masa depannya sendiri karena dikemudian hari nantinya perusahaan akan kehilangan pangsa pasarnya. Peningkatan kualitas dan mempertahankan kualitas memerlukan dana atau biaya yang disebut biaya kualitas. Jadi bisa dikatakan biaya kualitas adalah biaya yang dikeluarkan agar hasil dari proses produksi mempunyai kualitas yang sesuai dengan yang diinginkan atau bahkan lebih baik. Peningkatan atau penurunan kualitas mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap biaya kualitas dan biaya-biaya lain yang terlibat. Kualitas yang buruk berarti pemanfaatan sumber daya yang ada belum tepat. Hal ini melibatkan pemborosan bahan baku, tenaga kerja, waktu, peralatan, dan akibatnya melibatkan biaya yang lebih tinggi atau bisa dikatakan terjadinya pemborosan dalam perusahaan. Biaya tinggi yang terjadi, selain karena pemborosan faktor-faktor produksi juga terjadi karena pengerjaan ulang atau kerusakan produk yang harus ditanggung oleh perusahan. Dengan kualitas yang baik maka pemborosan, pengerjaan ulang dan kerusakan produk tidak akan terjadi dan biaya-biaya yang dikeluarkan akan lebih efisien.
Biaya kualitas yang dikeluarkan haruslah dilaporkan secara periodik. Hal ini sangat bermanfaat bagi manajemen perusahaan untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain itu biaya kualitas digunakan untuk menambah perhatian para manajer terhadap kualitas dan juga sebagai informasi mengenai bagian atau area mana yang perlu diperhatikan secara khusus. Selama ini setiap perusahaan pasti telah memperhatikan dan berusaha untuk meningkatkan kualitasnya, tetapi banyak dari mereka yang belum melaporkan biaya kualitas sebagai laporan tersendiri yang dilaporkan secara periodik. Biasanya biaya kualitas dapat digunakan sebagai informasi yang akurat bagi perusahaan atau manajemen untuk membuat strategi atau taktik perusahaan di masa yang akan datang.
Dalam penentuan harga pokok produk, sistim akuntansi biaya tradisional kurang sesuai lagi untuk diterapkan di era tekhnologi yang modern seperti saat ini. Karena sistem ini mempunyai beberapa kelemahan. Diantaranya adalah memberikan informasi biaya yang terdistorsi. Distorsi timbul karena adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya, sehingga mengakibatkan kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan, dan pengendalian (Supriyono, 1999: 259). Distorsi tersebut juga mengakibatkan undercost/overcost terhadap produk (Hansen & Mowen, 2005). Adanya berbagai kelemahan tersebut dapat diatasi dengan penggunaan metode Activity-Based Costing.
Activity-Based Costing adalah metode penentuan harga pokok yang menelusur biaya ke aktivitas, kemudian ke produk. Perbedaan utama penghitungan harga pokok produk antara akuntansi biaya tradisional dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu biaya) yang digunakan dalam metode ABC lebih banyak dibandingkan dalam sistem akuntansi biaya tradisional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perhitungan tarif rawat inap dengan menggunakan metode ABC, apabila dibandingkan dengan metode tradisional maka metode ABC memberikan hasil yang lebih besar kecuali pada kelas VIP dan Utama I yang memberikan hasil lebih kecil. Hal ini disebabkan karena pembebanan biaya overhead pada masing-masing produk. Pada metode akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masing produk hanya dibebankan pada satu cost driver saja. Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada pembebanan biaya overhead. Sedangkan pada metode ABC, biaya overhead pada masing-masing produk dibebankan pada banyak cost driver. Sehingga dalam metode ABC, telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepat berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar