DIA, IBUKU
22 tahun silam.....
Aku
terlahir dari rahim seorang wanita cantik bernama Rosida, ya.. dia ibuku. Ibu
sangat menyayangiku, sangat mencintaiku, tentu saja, karena aku adalah anak
pertama yang sangat dinanti-nanti kehadirannya.
Ibuku itu................
Ibuku
bukan lah berasal dari keluarga kaya yang hidupnya serba kecukupan. Ibuku
memiliki 7 orang adik, yang semuanya butuh makan setiap harinya. Sementara mbah
kakung hanyalah seorang petani biasa yang hidupnya bergantung pada getah karet.
Kalau musim hujan tiba, mbah kakung tidak dapat bekerja, dan getah yang sudah
berhari-hari di takik tidak dapat
dipanen, karena sudah bercampur dengan air. Kalau sudah begitu, ibu dan
adik-adiknya hanya bisa makan nasi dicampur dengan ubi yang di sawut dan ditambah dengan sedikit sambal
ikan teri, itu dilakukan oleh mbah putri agar anak-anaknya tetap bisa makan
dengan kenyang ketika uang dikantong benar-benar habis.
Ibuku
juga bukan orang yang memiliki pendidikan tinggi, bahkan beliau pun tidak tamat
Sekolah Dasar. Bukan berarti ibuku bodoh, ibuku tergolong anak yang pintar,
karena selama sekolah beliau selalu mendapat peringkat dikelasnya. Ibu sengaja
tidak menamatkan pendidikannya di bangku sekolah karena kasihan melihat mbah
putri yang kerepotan mengurus anak-anaknya, selain itu, himpitan ekonomi juga
lah yang memaksa ibu untuk keluar dari sekolah. Ibu memilih untuk kerja bersama
teman-teman sebaya nya (ketika itu ibu berumur 11 tahun) sebagai buruh tanam
kelapa sawit. Setiap harinya ibu di upah Rp. 250, itu sudah merupakan angka
yang tinggi untuk anak seusia ibu kala itu. Kini, pada kami lah kedua anaknya
beliau menggantungkan harapan yang tinggi.Ibu dan bapak ingin kami sekolah
setinggi-tingginya, meraih cita-cita yang dulu tak sempat mereka capai.
Ibuku
tidak bisa mengaji, oleh sebab itu dari umur 3tahun aku dicarikan guru mengaji.
Ibu tidak ingin kami tidak bisa mengaji sepertinya. Dan hasil dari belajar itu
mulai membuahkan hasil, saat aku kelas 2 SD aku memenangkan lomba MTQ tingkat
Kecamatan di tempat tinggalku. Waktu itu aku mendapatkan peringkat 2, tidak
pernah terbayangkan rasa bangga ibu kepada ku, padahal waktu itu akulah
satu-satunya peserta termuda yang mengikuti lomba itu.
Ibu
sadar bahwa beliau bukanlah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi.
Oleh karena itu, dengan sedikit ilmu yang beliau miliki, beliau mulai
mengajariku menulis, membaca, berhitung dan juga menggambar sejak aku berusia 3
tahun. Beruntung aku termasuk anak yang mudah mencerna apa yang beliau
sampaikan, sehingga ibu tidak terlalu sulit mengajariku.Ibu sering menyisihkan
uang belanja hanya untuk membelikan majalah Bobo untuk kubaca. Ketika aku sudah
masuk TK, ibu merasa sedikit lega, karena sudah ada guru yang mengajariku
disekolah. Setiap pulang sekolah aku selalu memamerkan hasil karya ku yang
mendapatkan tanda bintang dari ibu guru.Aku semakin giat belajar ketika aku
mulai duduk di bangku SD. Alhamdulillah aku selalu mendapat peringkat 1 selama
duduk di Sekolah Dasar, bahkan 2 kali aku meraih juara umum. Begitu pula ketika
aku menginjak bangku SMP dan SMU aku tak pernah ketinggalan mendapatkan
peringkat dikelas. Dan ketika kelulusan SMU tiba, aku didaulat sebagai siswa
dengan nilai tertinggi di sekolahku.
7 tahun silam
2004,
itu adalah tahun terpahit dalam hidupku dan keluargaku. Ibu terkena stroke, anggota tubuh sebelah kiri ibu
tidak dapat bergerak. Alhamdulillah kini meskipun belum begitu sembuh, ibu
sudah dapat berjalan dan dapat beraktifitas lagi. Ibu sempat berkata kepadaku “Mbak
nggak malu punya ibu yang cacat”, dan saat itu pula ku peluk ibuku seraya
berkata kepadanya “Apapun kondisi ibu, mbak nggak akan pernah malu, karena mbak
bisa seperti sekarang, itu semua berkat didikan ibu”. Sekarang aku adalah
mahasiswi semester 7 yang tengah merampungkan skripsiku. Semua ini berkat doa
dan didikan mu ibu. Dan ketika teman-temanku bertanya siapakah yang bisa
membuatku menjadi seperti ini, aku hanya tersenyum sambil memperlihatkan foto
dan menjawab: “Dia, Ibuku”.
“I Love You Mom”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar