Selasa, 13 Desember 2011

buat my mom


DIA, IBUKU
22 tahun silam.....
Aku terlahir dari rahim seorang wanita cantik bernama Rosida, ya.. dia ibuku. Ibu sangat menyayangiku, sangat mencintaiku, tentu saja, karena aku adalah anak pertama yang sangat dinanti-nanti kehadirannya.
Ibuku itu................
Ibuku bukan lah berasal dari keluarga kaya yang hidupnya serba kecukupan. Ibuku memiliki 7 orang adik, yang semuanya butuh makan setiap harinya. Sementara mbah kakung hanyalah seorang petani biasa yang hidupnya bergantung pada getah karet. Kalau musim hujan tiba, mbah kakung tidak dapat bekerja, dan getah yang sudah berhari-hari di takik tidak dapat dipanen, karena sudah bercampur dengan air. Kalau sudah begitu, ibu dan adik-adiknya hanya bisa makan nasi dicampur dengan ubi yang di sawut dan ditambah dengan sedikit sambal ikan teri, itu dilakukan oleh mbah putri agar anak-anaknya tetap bisa makan dengan kenyang ketika uang dikantong benar-benar habis.
Ibuku juga bukan orang yang memiliki pendidikan tinggi, bahkan beliau pun tidak tamat Sekolah Dasar. Bukan berarti ibuku bodoh, ibuku tergolong anak yang pintar, karena selama sekolah beliau selalu mendapat peringkat dikelasnya. Ibu sengaja tidak menamatkan pendidikannya di bangku sekolah karena kasihan melihat mbah putri yang kerepotan mengurus anak-anaknya, selain itu, himpitan ekonomi juga lah yang memaksa ibu untuk keluar dari sekolah. Ibu memilih untuk kerja bersama teman-teman sebaya nya (ketika itu ibu berumur 11 tahun) sebagai buruh tanam kelapa sawit. Setiap harinya ibu di upah Rp. 250, itu sudah merupakan angka yang tinggi untuk anak seusia ibu kala itu. Kini, pada kami lah kedua anaknya beliau menggantungkan harapan yang tinggi.Ibu dan bapak ingin kami sekolah setinggi-tingginya, meraih cita-cita yang dulu tak sempat mereka capai.
Ibuku tidak bisa mengaji, oleh sebab itu dari umur 3tahun aku dicarikan guru mengaji. Ibu tidak ingin kami tidak bisa mengaji sepertinya. Dan hasil dari belajar itu mulai membuahkan hasil, saat aku kelas 2 SD aku memenangkan lomba MTQ tingkat Kecamatan di tempat tinggalku. Waktu itu aku mendapatkan peringkat 2, tidak pernah terbayangkan rasa bangga ibu kepada ku, padahal waktu itu akulah satu-satunya peserta termuda yang mengikuti lomba itu.
Ibu sadar bahwa beliau bukanlah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi. Oleh karena itu, dengan sedikit ilmu yang beliau miliki, beliau mulai mengajariku menulis, membaca, berhitung dan juga menggambar sejak aku berusia 3 tahun. Beruntung aku termasuk anak yang mudah mencerna apa yang beliau sampaikan, sehingga ibu tidak terlalu sulit mengajariku.Ibu sering menyisihkan uang belanja hanya untuk membelikan majalah Bobo untuk kubaca. Ketika aku sudah masuk TK, ibu merasa sedikit lega, karena sudah ada guru yang mengajariku disekolah. Setiap pulang sekolah aku selalu memamerkan hasil karya ku yang mendapatkan tanda bintang dari ibu guru.Aku semakin giat belajar ketika aku mulai duduk di bangku SD. Alhamdulillah aku selalu mendapat peringkat 1 selama duduk di Sekolah Dasar, bahkan 2 kali aku meraih juara umum. Begitu pula ketika aku menginjak bangku SMP dan SMU aku tak pernah ketinggalan mendapatkan peringkat dikelas. Dan ketika kelulusan SMU tiba, aku didaulat sebagai siswa dengan nilai tertinggi di sekolahku.
7 tahun silam
2004, itu adalah tahun terpahit dalam hidupku dan keluargaku. Ibu terkena stroke, anggota tubuh sebelah kiri ibu tidak dapat bergerak. Alhamdulillah kini meskipun belum begitu sembuh, ibu sudah dapat berjalan dan dapat beraktifitas lagi. Ibu sempat berkata kepadaku “Mbak nggak malu punya ibu yang cacat”, dan saat itu pula ku peluk ibuku seraya berkata kepadanya “Apapun kondisi ibu, mbak nggak akan pernah malu, karena mbak bisa seperti sekarang, itu semua berkat didikan ibu”. Sekarang aku adalah mahasiswi semester 7 yang tengah merampungkan skripsiku. Semua ini berkat doa dan didikan mu ibu. Dan ketika teman-temanku bertanya siapakah yang bisa membuatku menjadi seperti ini, aku hanya tersenyum sambil memperlihatkan foto dan menjawab: “Dia, Ibuku”.
“I Love You Mom”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar